Jakarta – Turut mengomentari abolisi dan amnesti pada Tom Lembong dan Hasto Kristianto. Sosok JT menganggap keputusan Presiden Prabowo tidak salah. Dan berharap masyarakat menanti langkah selanjutnya yang akan dilakukan Mantan Kopasus itu menegaKkan keadilan.
Bijak dalam melihat masalah, menjadi ciri khas JT selaku praktisi hukum ini, dalam menanggapi pro kontra di masyarakat tentang pemberian amnesti dan abolisi Presiden Prabowo, pada Tom Lembong dan Hasto Kristianto.
Pemberian amnesti dan abolisi pada Tom Lembong dan Hasto Kristianto, tidak ada masalah dalam pandangan JT, juga pemerhati sosial. Terlepas ada maksud politik didalamnya, namun harus dibarengi dengan tindakan nyata pada kasus yang belum terselesaikan sampai hari ini.
Ditegaskan JT, keadilan hukum tanpa terkecuali berlaku pada semua warga Indonesia. Untuk itu, diperlukan tindakan nyata dalam rangkaian amnesti dan abolisi tersebut.
“Banyak hal lain yang lebih penting dari abolisi dan amnesti. Saya yakin, Presiden Prabowo tegak lurus sesuai dengan karakter dan jiwanya. Seperti dikatakannya, akan mengejar dan menyikat habis pelanggar hukum sampai lari ke langit manapun,” papar JT.
Dalam hal ini, JT berharap Presiden Prabowo waspada terhadap berbagai ‘bisikan’ dari para pihak. Terutama langkah para pembantunya, yang dapat merusak citra Prabowo Subianto sebagai Presiden.
“Presiden Prabowo pernah sebagai militer dan bertempur dimedan peperangan untuk mempertahakan kesatuan bumi indonesia di Timor Timur tempo hari dan beberapa di wilayah indonesia terkait konflik. Saya yakin jiwa militernya masih ada sampai saat ini. Hanya saja, jalan yang dilakukannya belum maksimal. Tapi semangatnya membangun Indonesia lebih baik, saya yakin beliau tetap pegang teguh,” ungkap JT.
Untuk itu, JT mendorong Presiden Prabowo lebih fokus terhadap berbagai persoalan di masyarakat. Baik masalah ekonomi, lapangan kerja dan pendidikan yang kini menjadi isu luas di masyarakat. Serta janjinya untuk memberantas dan menghabisi para koruptor.
“Jangan sampai terjadi peristiwa 1998 terulang kembali. Karena sangat bahaya jika masyarakat lelah dan tidak ada pilihan lain lagi untuk mempertahankan hidup,” tegas JT.
